top of page
Search

THE JOURNEY #6

Updated: Apr 24, 2024


Kami butuh waktu... Ya... Kami butuh waktu untuk pemulihan dan kami butuh waktu untuk menata ulang banyak hal dalam hidup kami. Kami sempat berpikir kalau bayi tabung itu adalah jalan terakhir bagi kami untuk punya anak. Dan ternyata juga ga berhasil bagi kami. Kami butuh waktu untuk banyak hal... Untuk bisa menerima kalau mungkin kami memang tidak mungkin punya anak.


Memasuki tahun 2020, tanpa sadar menjadi salah satu tahun yang penting dalam perjalanan spiritual gua. Luar biasa Tuhan. Seperti kita semua juga tau, tahun 2020 bulan Maret ternyata kita udah "dipaksa" untuk stay di rumah aja. Covid melanda seluruh dunia. Begitu banyak ketidak jelasan karena virus yang masih asing bagi kita semua. Dari awal kita semua harus #dirumahaja, gua sendiri di rumah, karena pas banget waktu itu Karin lagi ada business trip. Pulang dari business trip pun Karin melanjutkan untuk karantina pribadi. Jadi hampir 1 bulan penuh di awal lockdown itu, gua sendiri di rumah.


Momen lockdown ini ternyata sangat penting buat gua. Gua bisa kembali punya waktu untuk berbicara dengan diri sendiri dan dengan Tuhan. Dari awal mulai di rumah, gua memulai beberapa kebiasaan baru yang selama ini mungkin sulit untuk gua lakukan. Setiap pagi gua bisa memulai dengan saat teduh (ya.. selama ini gua jarang..), setelah saat teduh gua bisa doa dengan cukup tenang karena ga dikejar-kejar waktu, setelah itu gua bisa baca renungan dan Alkitab. Wah hal-hal ini kalo selama ini sih gua jarang banget bisa lakukan atau setidaknya kalau dilakukanpun juga dengan buru-buru. Setelah itu gua bisa prepare sarapan, kadang explore beberapa resep sarapan dari youtube, abis itu baru mandi. Gua menyadari kalaupun di rumah, tapi saat gua mau set mood untuk siap kerja, gua mandi dan pakai baju rapih seakan gua bener siap untuk pergi kerja. Buat gua ini efektif.


Setelah itu gua bisa fokus kerja, kadang kerja, kadang belajar dari online soal macem-macem. Gua merasa udah lama gua ga berkesempatan belajar hal baru selama ini. Jadi selama lockdown ini, gua punya waktu untuk explore. Gua belajar gambar, rawat tanaman, masak, belajar investasi, dll. Terus sekitar jam 4 sore, gua ke balkon buat baca buku. Karena kan emang waktu itu disuruh sering berjemur kalau bisa pagi dan sore. Jadi gua sambil berjemur sambil baca buku. Gua baru inget lagi kalau ternyata gua suka baca buku. Tapi selama ini ga sempet karena terlalu padat. Bisanya target gua 1 hari 1 bab atau setidaknya 1 jam. Lanjut jam 5 gua olahraga di rumah kurang lebih 30 menit sampai 1 jam. Terus lanjut dinner. Semenjak di rumah gua selalu dinner di bawah jam 7 dan tidur malam dibawah jam 11. Rapih banget keseharian gua.


Ternyata gua sangat menikmati kebiasaan baru ini. Dengan habit baru ini setiap harinya, gua merasa secara fisik, mental, dan spiritual gua lebih membaik. Gua meyadari kalau selama ini gua udah terlalu terlarut dalam rutinitas dan kesibukan yang luar biasa seakan mengejar sesuatu yang ga jelas, sampai gua justru kehilangan banyak hal yang penting.


Di tahun 2020 ini juga "lahirnya" #undrcnstrctndscpl, Under-construction Disciple. Dimulai dari adanya kegelisahan dalam hati gua untuk lebih mengenal Tuhan, mau belajar lebih meneladani Dia, ingin untuk belajar lebih taat hari demi hari, dan gua sadar selama ini yang sering membuat gua down dan kecewa salam perjalanan bersama Tuhan itu justru karena seringnya gua kembali jatuh dan gagal dalam ikut Tuhan dan ketakutan di-judge oleh orang-orang karena kegagalan gua itu. Dengan menyadari kalau gua ini masih underconstruction, belom selesai, masi diproses oleh Tuhan, kadang masih jatuh, kadang masih gagal, tapi mau terus belajar untuk setia ikut Tuhan dan mau diproses untuk semakin taat, hal ini justru membuat gua lebih "berani" untuk melangkah.


Penulisan #undrcnstrctndscpl memang dibuat tidak lengkap, karena masih underconstruction, belom lengkap, belom selesai, masi diproses, dan kehilangan sebagian besar huruf vokal nya. Ini sebenernya konsepnya adalah supaya gua bisa selalu ingat untuk lebih berani vokal bersaksi bagi Tuhan walaupun masih berproses.


Memasuki tahun 2021, EVLOGIA pindah lokasi ke daerah Jakarta Selatan. Tahun itu pun sebenarnya masih penuh dengan ketidak pastian karena pandemi yang ternyata berkepanjangan. Pindah ke lokasi baru di tengah pandemi sungguh bukan keputusan yang mudah. hahaha... Dari awal kita buka di lokasi baru, langsung dihajar rentetan PPKM yang terus berganti-ganti aturan, tapi yang pasti semuanya ga mudah untuk kami yang baru buka.


Ga lama setelah kami buka, waktu itu masih PPKM dimana kami ga boleh menerima dine-in di area indoor. Gua lagi sendirian di kantor, cukup stress juga karena udah sampai titik bingung harus ngapain lagi. Gua ambil saat teduh saat itu. Di saat itulah tiba-tiba ada dorongan yang sangat kuat untuk membagikan makanan gratis di EVLOGIA. Ini aneh. Pertama, kita baru keluar dana cukup besar untuk renovasi di lokasi baru. Kedua, prosedurnya gimana untuk bagiin makanan gratis?


Waktu itu rasanya dorongan itu kuat banget dalam hati, tapi di saat bersamaan juga rasanya khawatir banget musti gimana. Akhirnya gua kontek Vedie, partner gua di EVLOGIA, pikiran gua, kalau ada sedikit aja keraguan dari dia, kt mundur nih. Ternyata pas gua share soal bagi-bagi makanan gratis itu, dia malah lgs ok aja. Soooo... Let's do this... tinggal gimana caranya. Akhirnya kita memutuskan untuk jalan aja secara sederhana dulu. Kita beli nasi bungkus dari warteg sekitar dan air mineral. Terus kita siapin meja di gerbang EVLOGIA, tempelin kertas aja kalau kita bagi makanan gratis.


Hari pertama kita cuma sediain 5 pax aja. Hahaha.. Karena sebegitu khawatirnya gua. Awal-awal memang ga ada yang berani ambil, akhirnya kita yang inisiatif keluar untuk bagiin. Besok nya kita memutuskan untuk bagiin 10 pax. Tapi gua bilang sama Vedie, ini dana kita juga terbatas, paling-paling kalau kita jalan begini, mentok-mentok paling kita cuma bisa jalan 1-2 minggu.


Tapi ternyata, rencana Tuhan luar biasa mengajarkan gua melalui kejadian itu. Di malam hari pertama kita bagi-bagi makanan itu, ada temen gua chat bilang kalau dia mau ikut sumbang untuk bagi-bagi makanan itu karena liat gua share di instagram. Gua bilang, kasi gua waktu untuk gimana prosedurnnya. Karena gua perlu pikirin gimana cara aturnya supaya bisa rapih termasuk pendataannya. Karena kalau gua terima kan berarti udah melibatkan uang orang juga. Tanggung jawabnya beda. Malamnya gua sampe ampir ga bisa tidur. Gua kepikiran musti gimana. Akhirnya, besok paginya gua chat temen gua itu, gua ok-in terima uang dia juga untuk bagi-bagi makanan. Gua data semuanya supaya rapih. Tapi ternyata itu cuma opening nya. Di hari itu, sepanjang hari, banyak banget orang yang kontek gua untuk transfer uang untuk ikut mau berbagi makanan. Gua kehilangan kata-kata.


Gua melihat ini seperti Tuhan kasi liat gua secara langsung kisah 5 roti 2 ikan. Dimana Dia meminta gua taat untuk membawa apa yang gua punya, DAN DIA MELIPAT GANDAKAN. Gua merinding banget. Setiap ingat ini, gua masih merinding. Akhirnya uang sumbangan itu bisa terus masuk sampai akhirnya yang tadinya gua pikir kita mentok cuma akan sanggup 1-2 minggu, ternyata bisa berjalan berbulan-bulan.


Dari kejadian itu, gua kembali diingatkan, kenapa dari awal mulanya kita memulai EVLOGIA, untuk bisa berbagi berkat. Akhirnya, kejadiannya berlanjut. Setelah berjalan bagi-bagi makanan itu, di instagram gua muncul satu akun yang menarik perhatian gua. Seperti tadi gua bilang, gua kembali diingatkan apa core dari EVLOGIA. Mendadak di instagram gua muncul satu akun yang menghubungkan UMKM dengan aktivitas sosial. Jadi mereka arrange movement untuk mengajak UMKM supaya dapat menyalurkan dan membantu sesama. Sejujurnya, gua kaget ketemu akun ini, dan ketemunya pas banget waktunya.


Akhirnya gua konteklah untuk tanya lebih jauh gimana caranya supaya EVLOGIA bisa berbagian. Semua begitu mudah, semua begitu lancar, semua sejalan. Seperti bener-bener emang udah diatur jalannya. Akhirnya kita memutuskan untuk kerjasama, hasil keuntungan dari EVLOGIA dalam 1 bulan akan kita sumbangkan melalui mereka. Waktu itu kita belom tau juga akan disalurkan kemana pokoknya kita ikut. Yang lebih mengejutkan lagi buat gua, pas mereka mention kalau sumbangannya akan disalurkan ke Rumah Ruth di Bandung. Gua baru denger soal Rumah Ruth ini dari Mario, adiknya Karin. Belom lama dia baru aja cerita soal Rumah Ruth ini, gua tertarik dengan pelayanaan Rumah Ruth ini. Kalau sempet pengen juga visit ke Rumah Ruth, tapi karena di Bandung tentunya jadi perlu atur waktu dulu.


Ternyata bener, pas diinfo kalau sumbangannya nantinya akan disalurkan ke Rumah Ruth, gua lagi-lagi merinding. Kenapa bisa jalannya serapih ini?



Setelah berjalan sebulan, gua dan Karin memutuskan untuk ikut langsung untuk datang ke Rumah Ruth untuk menyerahkan secara langsung juga. Lagipula memang gua sudah ada keinginan untuk bisa visit ke sana. Begitu sampai di Rumah Ruth, sejujurnya hati gua agak miris. Jadi di Rumah Ruth ini mereka menjalankan pelayanan untuk menampung sementara perempuan yang hamil di luar nikah dan ditolak oleh keluarganya atau lingkungannya. Sehingga mereka dapat dibimbing dan disupport oleh Rumah Ruth ini sampai mereka melahirkan. Tapi kondisinya, kadang ada juga anak-anak yang dilahirkan inipun tidak dibawa karena "ditolak" oleh keluarganya. Sehingga Rumah Ruth ini juga menampung beberapa dari anak-anak ini. Buat gua, yang berjuang untuk bisa punya anak, mendengar cerita ini dan melihat langsung anak-anak ini, hati gua perih.


Di awal tahun 2021 gua sempet bilang ke Karin. Setahun ini kita doakan minta Tuhan untuk punya anak, antara Tuhan kasih secara natural atau mungkinkah adopsi?. Tapi kali ini kita ga akan mencoba cara-cara kita lagi. Selain itu juga gua trauma untuk kembali menjalankan program bayi tabung. Kita lihat setahun ini, kalau masih juga ga berhasil, di akhir tahun kita coba bahas apa rencana kita. Bukan berarti kami tuh ga lengkap sebagai keluarga kalau cuma berdua aja, tapi seperti ada kerinduan dalam hati gua untuk memiliki anak.


Akhirnya setelah visit Rumah Ruth itu, di akhir tahun 2021, gua mulai menggumulkan untuk adopsi. Apalagi setelah melihat anak-anak ini. Gua mulai bicarakan sama Karin. Seperti nya sudah "ga mungkin" untuk kita bisa punya anak secara natural, mungkin memang kita perlu doakan dan gumulkan untuk adopsi. Gua mulai tanya-tanya dan cari tau juga untuk prosedur adopsi. Ternyata ga mudah dan cukup ribet. Kami menutup tahun 2021 dan memulai 2022 dengan menggumulkan apakah siap kami untuk adopsi?


Ternyata....


Di akhir bulan Januari 2022, Karin hamil... Secara natural... Dan... Kembar...




 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post
  • Instagram

©2022 by #UNDRCNSTRCTNDSCPL. Proudly created with Wix.com

bottom of page